Mediumindonesia.com - Akhir pekan yang dinanti kembali tiba. Sejumlah persiapan menyambut tamu wisma dan cafe tentu sejak awal disiagakan. Tak terkecuali talent yg akan mengisi panggung hiburan. Saya yang sudah hampir sepekan stay di Bira memimpin langsung “komando” untuk memastikan semua SOP dan prosedur penerimaan tamu berjalan untuk dan atas nama kepuasan.
Setelah sholat Jumat, telponku berdering. Kepada saya diminta untuk segera ke Makassar. Sebuah perhelatan dalam bentuk diskusi akan digelar. Nara Sumbernya tak main-main. Seorang yang kini menjabat posisi Gubernur, provinsi tepat Ibukota Negara dan pula digadang-gadang menjadi Presiden Republik Indonesia. Di ujung telpon terdengar bahwa sy dipersiapkan mengisi sesi baca doa dan sekaligus menjadi moderator dalam dialog tersebut.
Sy tak langsung menerima. Kepada penelpon sy meminta mencari altetnatif sj mengingat sy fokus ngurusi jualan kopi sy di Bira. Apalagi ini adalah akhir pekan di mana banyak wisatawan akan meramaikan akhir pekannya dengan berlibur. Bahkan, sy pun menjelaskan bahwa sebagai perwakilan, sy sdh mengutus beberapa kolega untuk hadir di acara tersebut mewakili organisasi.
Setelah diyakinkan terus, sy luluh, sy mengiyakan. Sy sampaikan bahwa insya Allah setelah sholat subuh. Sy harus ketemu si buah hati si Redmont dan Azka yang malam itu juga berangkat dari Makassar menuju Bulukumba bersama Umminya.
Sy tinggalkan Bira malam itu seorang diri sekitar pukul 24.00 (Jumat/21) menuju Bulukumba untuk istriahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan setelah sholat subuh ke Makassar.
Saat tiba di lokasi acara, sy msih rada-rada ragu sebenarnya akan dipersiapkan mengisi acara dalam panggung besar ini. Bukan saja karena nara sumbernya sekelas Anis Baswedan, juga karena kursi peserta diisi oleh sederetan tokoh-tokoh yang cukup populer. Sy malah dapat daftar sejumlah akademisi bergelar Professor dan doktor yang telah duduk di meja VVIP. Belum nama-nama aktifis hingga tokoh agama dari Muhammadiyah dan Wahdah Islamiyah juga turut ambil bagian. Itu belum terhitung nama-nama pengusaha di Sulsel krn acara ini memang dilaksanakan oleh Forum Interpreneur Makassar. Ada A. Troy Martino, putra Mantan Bupati Bulukumba bertindak sebagai sekretaris kegiatan ini.
Ballroom besar di Hotel Claro menjadi lokasi acara bertajuk Masyarakat Sulsel Menyambut Anis Baswedan seakan menegaskan bahwa event kali ini amat sangat bergengsi. Ini semua yang menjadi alasan “dumba-dumba” hingga rasa kepercayaan diri berkurang akhirnya menghampiri juga. Sanggupkah seorang pabalu kopi dari Kampung, dimandat dalam forum bergensi…? Apakah justru sy akan mempermalukan diri di tempat ini…? Dan sejumlah pertanyaan berkecamuk dalam hati. Ditambah lagi bebanku semakin bertambah saat identitas yang dilekatkan ke sy saat itu adalah seorang pengusaha. Aduh, sempurna ketakutan ini.
Tibalah saatnya. Namaku disebut setelag ceremonial pembukaan. Sy berserah diri ke Allah. Kuletupkan doa lapang dada. Kuawali dengan sholawat lalu meneruskan doa Nabi Musa. Bismillah, sy mulai.
Rasa canggung hilang. Kalimat pengantar mulai mengalir. Kusebut tanggal lahir Anis Baswedan. Kusebut sejumlah statemen-statemen yg memang sudah terekam dalam memoriku. Tepukan tangan audiance semakin memberiku rasa percaya diri. Hingga sy berdiri sembari mempersilahkan sang narsum. Dalam aksentuasi yg sedikit meninggi, …….kita undang H. Anis Rasyid Baswedan ke atas panggung….
Saat di panggung, ARB mengucapkan terima kasih. Ia memberiku pujian. Beberapa detik tanganku berjabat. Sy menimpali dengan senyuman. Meski sy tau pujian itu untuk menyenangkanku. Krn jauh2 dari Bulukumba utk mendampinginya. Kalimat itu sy ucapkan di depannya. Seperti jika melihat videonya ia tersenyum atas kata2ku.
ARB telah menunjukkan kelasnya. Ia banyak menceritakan point krusial. Mulai cara berbangsa hingga bagaimana persatuan dirajut. Ia bukan saja seorang yang taat agama, tapi juga amat mencintai negeri ini. Filosofi keadilan yang jadi roh utama selama memimpin Jakarta ia jelaskan secara tuntas. ” Oleh Allah, sy akan dimintai pertanggung jawaban kelak atas amanah ini,” Ucapnya. Dari itulah kenapa programnya disebut berpihak ke rakyat dan kepentingan khalayak.
Saat sesi berakhir, ia serahkan ponsel pintarnya ke sy. Ia minta untuk memasukkan nomor kontakku. Dengan sedikit gemetar, sy masukkan lalu menulis nama lengkapku. Ia sempurnakan namaku dengan menambahkan kata Makassar di belakangnya. Ini tak mungkin kulupakan. Jika pun tak jadi presiden, setidaknya no HP ku diminta oleh orang nomor 1 di Provinsi Utama Republik ini, DKI Jakarta, sudah membuatku bangga tak terkira.
Akhir pekan yang melelahkan
Akhir pekan yang membahagiakan..
Allahumma amin…
Bira, Ahad (23/1)






















































Discussion about this post