Oleh: Dr. Muhammad Akil Musi (Muballig/Dosen UNM)
To Matowatta Riolo iyarega To Mariolota (orang-orang terdahulu/leluhur) adalah orang-orang yang “tidak bersekolah” seperti kita pada hari ini yang sarjana, magister, bahkan doktor. Tetapi mengapa orang tua kita kelihatannya lebih baik, arif dan bijaksana?.
Mereka begitu kuat
Mereka sabar
Mereka tak pernah berkeluh kesah
Mereka selalu bersyukur
Mereka senantiasa berpikir positif
————————————
Sebab Mereka
Malempu (Jujur)
Teng mangoa (tidak serakah)
Teng mangempuru (Tidak iri)
Magetteng (tegas dalam kata, teguh dalam perbuatan)
Mappasitinaja (Yang ini pantas, yang itu tidak pantas saya lalukan)
Matanre siri (Malu jika melakukan hal-hal yang tidak patut)
Saya selalu berpesan kepada Anak-anakku mahasiswa, sekolahmu sungguh tinggi, tak setinggi orang-orang terdahulu
Saya mengamanatkan mereka sebagaimana leluhur kita pernah berkata,
Lempu namacca, Iyanaritu madeceng riparaddeki ri watakkale, Iyatonaritu temmassarang dewata Seuwae. Naiya riasengnge acca, Iyanaritu mitaengngi addimunrinna gaue. Naiya nappogau engkapi madeceng napogaui. Narekko engkai maja, ajasijamupogaui rewei matti jana riko
(Jujur dan pandai, itulah yang senantiasa ada dalam diri yang tidak terpisah dengan apa yang diinginkan oleh-Nya. Orang yang pandai adalah yang memperhitungkan akibat yang akan terjadi dari suatu perbuatan. Maka hanya yang baik yang kau lakukan. Jika salah yang kau lakukan, maka akibatnya akan kembali kepada dirimu).
—————————————-
Pappasenna to rioloe (Pesan leluhur) yang seharusnya takkan pernah pupus. Tetapi saat ini ia tak hanya sirna dalam tekstual tapi menghilang di dunia kontekstual. Peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa kita pada kehidupan yang tak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan sebagaimana yang telah diwariskan leluhur kita, padahal dunia mereka tak banyak disentuh dengan nuansa pendidikan formal. Mengapa mereka “sukses” menjalani hidupnya?.
Hidup mereka mabbarakka (penuh berkah). Orang tua kita memiliki anak yang banyak, bisa sampai 7, 10 bahkan mungkin selusin…tapi mereka tetap sabar dan tak pernah mengeluh dengan keadaan. Tak pernah berpikir jalan pintas (shortcut) untuk mencapai sesuatu. Filosofi nanre na pejje (nasi dan garam) bukan hanya sebatas kata melainkan benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata. Itulah sebabnya mereka “sukses” menjalani kehidupan yang sesungguhnya “tak ada apa-apanya” dibanding kehidupan hari ini yang serba “wah”.
Iyami ri ala sappo, getteng lempu na ada tongeng (Jadikan keteguhan, kejujuran dan ucapan yang benar sebagai pagar kehidupan). Na resopa teng mangingngi na malomo na letei pammase dewata ( Usaha yang sungguh dan sabar adalah titian akan datangnya Rahmat Allah SWT).
Aja mu mangoa nasaba iyatu ngowae sapu ri pale cappa’na (Jangan serakah sebab ujung-ujungnya kau akan kehilangan segalanya).
Aja mungauwi tennia tane-tanemmu (Jangan mengambil sesuatu yang bukan bagianmu)
Semoga pesan leluhur ini bermafaat bagi saya, dan anak-anakku dan kepada semua mahasiswa yang pernah saya ajarkan soal pesan-pesan ini…atau yang membaca ini….

